{"id":1347,"date":"2026-05-20T02:39:07","date_gmt":"2026-05-20T02:39:07","guid":{"rendered":"https:\/\/perdiksi.com\/?page_id=1347"},"modified":"2026-05-28T01:13:52","modified_gmt":"2026-05-28T01:13:52","slug":"bisakah-sekolah-saja-memutus-kemiskinan-sekolah-rakyat-menunjukkan-persoalan-yang-lebih-mendasar","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/kisah-inspiratif\/bisakah-sekolah-saja-memutus-kemiskinan-sekolah-rakyat-menunjukkan-persoalan-yang-lebih-mendasar\/","title":{"rendered":"Bisakah sekolah saja memutus kemiskinan? Sekolah Rakyat menunjukkan persoalan yang lebih mendasar"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-small-font-size\"><em>Penulis:&nbsp;Assoc. Prof. Dr. Sitti Maesuri Patahuddin<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, pendidikan kembali dirayakan sebagai jalan menuju keadilan, kesempatan, dan kemajuan bangsa. Namun tahun ini, momentum tersebut juga seharusnya mendorong refleksi yang lebih kritis terhadap program unggulan pemerintah: <strong>Program Sekolah Rakyat.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Program ini dipromosikan sebagai upaya untuk memutus rantai kemiskinan. Gagasan ini kuat secara politik\u2014dan sangat menggugah secara moral. Namun secara pendidikan, klaim tersebut perlu dipertanyakan secara serius.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalah utamanya bukan apakah Sekolah Rakyat memiliki niat baik. Masalahnya adalah apakah<br>kebijakan ini dibangun di atas pemahaman yang tepat tentang ketimpangan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/perdiksi.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/LaunchingSR-Banyuwangi-1024x683.jpeg\" alt=\"Peresmian Sekolah Rakyat di Banyuwangi\" class=\"wp-image-1348\" srcset=\"http:\/\/perdiksi.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/LaunchingSR-Banyuwangi-980x653.jpeg 980w, http:\/\/perdiksi.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/LaunchingSR-Banyuwangi-480x320.jpeg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Potret salah satu sekolah rakyat di banyuwangi (sumber: BeritaBwi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Pertanyaan yang keliru<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagian besar perdebatan publik saat ini berfokus pada apakah Sekolah Rakyat dapat diimplementasikan dengan baik\u2014apakah koordinasi antarkementerian berjalan efektif, apakah fasilitas memadai, atau apakah guru dapat direkrut. <\/p>\n\n\n\n<p>Semua itu penting. Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar yang belum banyak diajukan:<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:16px\"><strong><em>Bagaimana jika kebijakan ini berangkat dari pemahaman yang terlalu sempit tentang kemiskinan?<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jika kemiskinan dipandang terutama sebagai masalah akses sekolah, maka membangun jalur pendidikan khusus bagi anak-anak miskin tampak sebagai solusi yang logis. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan bersifat multidimensi.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.unicef.org\/indonesia\/media\/24191\/file\/multidimensional-child-rights-deprivation-analyis-indonesia.pdf\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.unicef.org\/indonesia\/media\/24191\/file\/multidimensional-child-rights-deprivation-analyis-indonesia.pdf\">Kajian dari UNICEF<\/a> menunjukkan bahwa ketertinggalan anak tidak hanya ditentukan oleh akses pendidikan, tetapi juga oleh faktor seperti pendapatan, kesehatan, gizi, dan kondisi tempat tinggal.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, World Bank menyoroti adanya \u201c<a href=\"https:\/\/www.worldbank.org\/en\/news\/press-release\/2017\/09\/26\/world-bank-warns-of-learning-crisis-in-global-education\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.worldbank.org\/en\/news\/press-release\/2017\/09\/26\/world-bank-warns-of-learning-crisis-in-global-education\">krisis pembelajaran<\/a>\u201d secara global\u2014banyak anak bersekolah, tetapi tidak mencapai kemampuan dasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Temuan ini mengarah pada satu kesimpulan penting: <strong>sekolah saja tidak cukup untuk memutus kemiskinan\u2014terutama jika kualitas pembelajaran masih lemah<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Ketika keadilan berubah menjadi pemisahan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sekolah Rakyat dirancang secara khusus untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Secara sekilas, ini mencerminkan komitmen terhadap keadilan. Namun di balik itu, terdapat risiko yang lebih dalam. <\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang terjadi jika bantuan diberikan melalui sistem yang terpisah?<\/p>\n\n\n\n<p>Sistem pendidikan tidak hanya mendistribusikan layanan. Ia juga membentuk ekspektasi, identitas, dan rasa memiliki. Ketika anak-anak dikelompokkan berdasarkan status ekonomi, bahkan dengan niat baik, sistem <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/bisakah-sekolah-rakyat-jadi-solusi-ketimpangan-pendidikan-bagi-masyarakat-miskin-259280\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/theconversation.com\/bisakah-sekolah-rakyat-jadi-solusi-ketimpangan-pendidikan-bagi-masyarakat-miskin-259280\">berpotensi memperkuat ketimpangan yang ingin diatasi<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ugm.ac.id\/en\/news\/on-sekolah-rakyat-program-ugm-expert-not-urgent-if-enforced-should-be-in-3t-areas\/\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/ugm.ac.id\/en\/news\/on-sekolah-rakyat-program-ugm-expert-not-urgent-if-enforced-should-be-in-3t-areas\/\">Akademisi dari Universitas Gadjah Mada<\/a> telah mengingatkan bahwa program seperti ini berisiko menimbulkan stigma dan pelabelan sosial. <\/p>\n\n\n\n<p>Ini bukan sekadar persoalan simbolik. Ini menyentuh makna keadilan itu sendiri. Jika siswa dari latar belakang miskin mendapatkan jenis pendidikan yang berbeda\u2014terpisah, terarah, dan berpotensi dengan ekspektasi lebih rendah\u2014maka keadilan berubah menjadi sekadar pengelolaan ketimpangan, bukan penghapusannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Logika kebijakan yang berbeda<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Perbandingan dengan Australia memberikan perspektif yang menarik. <a href=\"https:\/\/www.pc.gov.au\/closing-the-gap-data\/\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.pc.gov.au\/closing-the-gap-data\/\">Australia juga menghadapi ketimpangan pendidikan yang signifikan<\/a>, terutama terkait latar belakang sosial ekonomi dan wilayah geografis.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun pendekatan kebijakannya berbeda. Alih-alih membangun sistem sekolah terpisah bagi siswa kurang mampu, Australia mengembangkan model pendanaan berbasis kebutuhan (<a href=\"https:\/\/www.education.gov.au\/recurrent-funding-schools\/schooling-resource-standard\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.education.gov.au\/recurrent-funding-schools\/schooling-resource-standard\">needs-based funding<\/a>), di mana sekolah umum yang melayani siswa dengan kebutuhan lebih besar mendapatkan dukungan tambahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Prinsip dasarnya jelas:<br><strong>memperkuat sistem pendidikan umum, sambil memberikan dukungan tambahan di dalamnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Perbandingan ini penting karena menunjukkan adanya pilihan dalam merancang kebijakan. Ketika pemerintah membuat keputusan, mereka secara tidak langsung menyatakan apa yang mereka yakini sebagai makna keadilan: memperkuat sistem bersama, atau memisahkan mereka yang tertinggal. <\/p>\n\n\n\n<p>Bukti dari UNESCO menegaskan temuan yang konsisten: perluasan akses tanpa peningkatan kualitas pembelajaran hanya sedikit berkontribusi dalam mengurangi ketimpangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Pusat yang terabaikan: Guru<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di berbagai konteks, satu hal selalu konsisten: kebijakan pendidikan berhasil atau gagal di ruang kelas. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam pengalaman saya bekerja dengan guru di Indonesia dan di Australia, sering terlihat bahwa reformasi pendidikan terlalu fokus pada struktur\u2014program, bangunan, angka\u2014dan kurang memperhatikan peran sentral guru. Padahal, <a href=\"https:\/\/www.oecd.org\/en\/publications\/teacher-professional-learning_0cceeddf-en.html\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.oecd.org\/en\/publications\/teacher-professional-learning_0cceeddf-en.html\">guru adalah aktor utama<\/a> yang menentukan bagaimana siswa belajar, apa yang mereka pahami, dan sejauh mana mereka percaya diri terhadap kemampuan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Sekolah Rakyat ingin benar-benar mengubah masa depan siswa, maka fokusnya tidak boleh hanya pada akses. Investasi pada kapasitas guru menjadi kunci: pelatihan berkelanjutan, pendampingan, kolaborasi profesional, dan dukungan pedagogi yang kuat. <\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa itu, ada risiko bahwa akses meningkat, tetapi kualitas pembelajaran tetap rendah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/perdiksi.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/antarafoto-simulasi-sekolah-rakyat-di-srmp-6-jakarta-1752112375-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1351\" srcset=\"https:\/\/perdiksi.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/antarafoto-simulasi-sekolah-rakyat-di-srmp-6-jakarta-1752112375-980x653.jpg 980w, https:\/\/perdiksi.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/antarafoto-simulasi-sekolah-rakyat-di-srmp-6-jakarta-1752112375-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kegiatan belajar dalam simulasi Sekolah Rakyat di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta, Sentra Handayani, Bambu Apus, Jakarta, pada 9 Juni 2025. (sumber: infopublik.id\/)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Keadilan di era yang berubah<\/strong> <\/p>\n\n\n\n<p>Keadilan pendidikan saat ini tidak lagi hanya soal masuk sekolah. Ini juga tentang akses terhadap <strong><a href=\"https:\/\/www.thejakartapost.com\/opinion\/2024\/07\/27\/revolutionizing-indonesian-mathematics-education.html\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.thejakartapost.com\/opinion\/2024\/07\/27\/revolutionizing-indonesian-mathematics-education.html\">pengetahuan yang bermakna dan relevan dengan masa depan<\/a><\/strong>, termasuk STEM dan literasi digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam penelitian saya tentang pengembangan guru dan penggunaan kecerdasan buatan generatif dalam pendidikan, terlihat bahwa teknologi dapat membantu guru merancang pembelajaran yang lebih adaptif.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun teknologi bukan solusi instan. Tanpa dukungan guru yang kuat, teknologi tidak akan menghasilkan perubahan yang signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Sekolah Rakyat tidak mengintegrasikan dimensi ini, ada risiko bahwa siswa dari latar belakang kurang mampu justru mendapatkan pendidikan yang lebih terbatas, sementara siswa lain memperoleh akses ke pembelajaran yang lebih kaya dan berorientasi masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini bukan mengurangi kesenjangan\u2014ini justru memperdalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Melampaui niat baik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size\">Sekolah Rakyat lahir dari niat yang baik. Bagi sebagian anak, program ini mungkin memberikan dukungan yang sangat berarti, terutama bagi mereka yang menghadapi hambatan besar dalam mengakses pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size\">Namun kita perlu membedakan antara membantu sebagian siswa dan memutus rantai kemiskinan secara sistemik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size\">Sebuah program bisa bermanfaat, tetapi tetap tidak cukup sebagai strategi utama. Sebuah kebijakan bisa tampak progresif, tetapi tetap berangkat dari asumsi yang keliru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size\">Pada Hari Pendidikan Nasional, Indonesia perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:<br><strong>Apakah ketimpangan akan diatasi dengan membangun jalur pendidikan khusus bagi siswa miskin, atau dengan memastikan bahwa semua siswa\u2014tanpa memandang latar belakang\u2014mendapatkan pendidikan berkualitas dalam sistem yang kuat dan inklusif?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size\">Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size\">Karena kebijakan pendidikan tidak hanya menentukan siapa yang bersekolah, tetapi juga siapa yang benar-benar memiliki masa depan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis:&nbsp;Assoc. Prof. Dr. Sitti Maesuri Patahuddin Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, pendidikan kembali dirayakan sebagai jalan menuju keadilan, kesempatan, dan kemajuan bangsa. Namun tahun ini, momentum tersebut juga seharusnya mendorong refleksi yang lebih kritis terhadap program unggulan pemerintah: Program Sekolah Rakyat. Program ini dipromosikan sebagai upaya untuk memutus rantai kemiskinan. Gagasan ini kuat secara politik\u2014dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1348,"parent":528,"menu_order":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1347"}],"collection":[{"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1347"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1347\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1360,"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1347\/revisions\/1360"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/528"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1348"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perdiksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1347"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}