Artikel ini adalah hasil terjemahan dari artikel yang ditulis Sitti Maesuri Patahuddin, Ph.D., berjudul “Educators as Change Agents: Transforming Waste Challenges into STEM Opportunities on National Waste Care Day” dan dipublikasikan oleh The Jakarta Post pada 21 Februari 2024.

Penerjemah: Agustin Ernawati, M.Pd.

Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari, pendidik memiliki kesempatan penting untuk meningkatkan komitmen mereka terhadap pendidikan khususnya dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Dengan memanfaatkan isu pengelolaan sampah sebagai sumber pembelajaran yang inovatif dan dinamis, pendidik tidak hanya dapat menanamkan kebiasaan berpikir kritis STEM di kalangan pelajar, tetapi juga melibatkan mereka secara aktif dalam memahami dan mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Integrasi ini relevan dengan implementasi kurikulum di Indonesia, khususnya Kurikulum Merdeka. Pendidik berkesempatan untuk menerapkan strategi pendidikan dua arah: memperkaya pembelajaran pelajar sekaligus memberdayakan mereka untuk menjadi agen proaktif dalam mengatasi krisis sampah yang meningkat.

Kondisi Tempat Pembuangan Sampah Bantargebang, Bekasi Jawa Barat tahun 2019. (Sumber: kompas.id)

Indonesia menghadapi krisis serius dalam pengelolaan sampah, yang ditandai dengan peningkatan produksi sampah dan kurangnya kapasitas penanganan yang memadai. Berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023, Indonesia menghasilkan sekitar 17,44 juta ton sampah setiap tahun. Angka ini setara dengan berat sekitar 348,8 juta orang dewasa Indonesia, dengan asumsi rata-rata berat orang dewasa Indonesia adalah 50 kg. Data yang mengejutkan ini menyoroti besarnya masalah sampah di Indonesia, dimana sekitar 33,53% atau 5,85 juta ton sampah tidak dikelola dengan baik, menyebabkan ancaman serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Mayoritas sampah, sekitar 44,69%, berasal dari rumah tangga, dengan sisa makanan menyumbang sekitar 40%. Pembuangan sampah organik dalam jumlah besar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi keprihatinan utama karena kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca. Tantangan ini semakin diperparah oleh infrastruktur pengelolaan sampah kurang memadai, dimana TPA, pusat daur ulang, dan pembangkit listrik dari sampah tidak cukup untuk mengatasi masalah sampah yang semakin meningkat. Oleh karena itu, langkah-langkah mendesak dan komprehensif diperlukan.

Integrasi pengelolaan sampah ke dalam pembelajaran STEM sangat penting untuk membekali generasi masa depan dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam menghadapi tantangan terkait sampah secara inovatif. Pendekataan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga mendorong para pemangku kebijakan untuk lebih proaktif, baik skala lokal maupun global.

Pendekatan beragam, termasuk pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), eksperimen praktis (hands-on experiments), dan proyek kolaboratif (hands-on experiments), dapat efektif mengintegrasikan pengelolaan sampah ke dalam kurikulum STEM. Pembelajaran Berbasis Proyek, misalnya, dapat melibatkan pelajar dalam proyek semester panjang, seperti merancang dan menerapkan program pengurangan sampah di sekolah atau lingkungan sekitar mereka. Metode ini tidak hanya mengajarkan tentang pengelolaan sampah, tetapi juga mengasah keterampilan penelitian, perencanaan, dan eksekusi. Eksperimen Praktis memberikan pengalaman langsung tentang konsep pengelolaan sampah. Kegiatan seperti eksperimen kompos membantu pelajar memahami dekomposisi sampah biodegradable dan transformasinya menjadi kompos, sekaligus mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi proses ini. Proyek Kolaboratif memungkinkan pelajar menerapkan pembelajaran mereka dalam konteks dunia nyata, seperti merancang sistem daur ulang yang efisien untuk sekolah mereka. Hal ini mendorong kerja sama tim, pemecahan masalah, dan berpikir kritis.

Pengelolaan sampah dapat diintegrasikan di berbagai mata pelajaran STEM. Pelajaran biologi dapat mencakup dekomposisi sampah organik, kimia dapat fokus pada pemecahan material, fisika mungkin mengeksplorasi konversi sampah menjadi energi, dan matematika dapat digunakan untuk menilai efisiensi pengelolaan sampah. Kolaborasi dengan organisasi lingkungan dan kunjungan lapangan ke fasilitas pengelolaan sampah memberikan pengalaman langsung yang membuat pembelajaran lebih relevan dan berdampak. Pendekatan holistik ini mempersiapkan pelajar untuk berpikir kritis dan bertindak secara bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Peran pendidik dalam mengintegrasikan pengelolaan sampah ke dalam pendidikan STEM sangatlah penting dan memerlukan inovasi pedagogis yang berkelanjutan. Contoh yang nyata adalah program Micro-credential STEM Rich Tasks yang ditawarkan oleh Fakultas Pendidikan University of Canberra kepada guru-guru Indonesia. Program ini memberdayakan pendidik dengan alat untuk melibatkan pelajar secara aktif dalam pemecahan masalah dunia nyata, termasuk tantangan sampah. Guru dibimbing untuk mengeksplorasi masalah sampah di sekitar mereka dan mengembangkan pembelajara yang relevan. Pendekatan ini memiliki dua tujuan: mengembangkan pola pikir STEM pada pelajar dan menunjukkan integrasi metode pengajaran inovatif ke dalam kurikulum. Ini menyoroti peran penting guru dalam menyiapkan generasi masa depan yang sadar lingkungan dan mampu memecahkan masalah, sehingga membentuk masa depan pendidikan pengelolaan sampah.

Oleh karena itu, sangat penting bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan untuk mengakui kebutuhan mendesak akan transformasi pendidikan, dengan memprioritaskan keberlanjutan lingkungan. Integrasi pengelolaan sampah dan kesadaran lingkungan ke dalam kurikulum STEM menandai pergeseran penting, bukan hanya peningkatan metode saat ini. Pendidik harus memimpin perubahan ini dengan memadukan pembelajaran berbasis proyek, eksperimen praktis, dan pemecahan masalah dunia nyata. Hal ini akan memperkaya pembelajaran dan membekali pelajar dengan keterampilan untuk mengatasi tantangan lingkungan di masa depan. Pembuat kebijakan memegang peranan penting dalam memfasilitasi perubahan ini melalui revisi kebijakan dan peningkatan pendanaan untuk pendidikan lingkungan dalam STEM. Sementara itu, pemangku kepentingan, termasuk lembaga pendidikan, sektor swasta, dan organisasi masyarakat, harus berkolaborasi untuk menyediakan sumber daya dan dukungan yang diperlukan. Upaya kolaboratif ini bukan hanya tanggung jawab bersama tetapi juga kebutuhan mendesak untuk masa depan yang berkelanjutan.

Tindakan yang diambil saat ini akan membentuk kesehatan planet kita dan kualitas hidup generasi masa depan. Mari kita bersatu dalam komitmen terhadap penyebab penting ini, bekerja bersama menuju masa depan yang berkelanjutan dan sejahtera untuk semua.